Iklan
Iklan





Jakarta – Dari lima kompetisi teratas Eropa, cuma La Liga yang belum punya Goal-line Technology. Biaya yang mahal pernah jadi kendala buat otoritas Liga Spanyol.

Dinihari tadi Lionel Messi mencetak gol sah namun tidak diakui wasit. Sang pengadil dan asistennya di tepi lapangan tidak melihat bola yang terlepas dari tangkapan Neto sudah masuk melewati garis gawang.

Ini bukan kali pertama tercipta kontroversi soal keabsahan sebuah gol. Pada Januari tahun ini Barca mencetak gol ke gawang Real Betis namun tak disahkan wasit (lantaran pemain Betis menyapu bola setelah melewati garis gawang). Ada beberapa kasus serupa yang terjadi di La Liga dalam beberapa musim terakhir.

Sayangnya, sejauh ini kontroversi gol sah atau tidak belum akan ada solusinya di Liga Spanyol. Berbeda dengan para tetangganya (Premier League, Serie A, Ligue 1, Liga Jerman), La Liga belum punya teknologi garis gawang.

Berbicara soal teknologi garis gawang, ada perbedaan kriteria (atau standarisasi) antara La Liga dan FIFA.

Momen ini FIFA cuma menunjuk empat provider untuk menyediakan teknologi garis gawang tersebut. Mereka adalah: ChyronHego, Fraunhofer IIs, GoalControl, dan Hawk-Eye Innovations. Per Januari 2016, tercatat ada 78 stadion di seluruh dunia yang memakai teknologi ini, meski yang digunakan hanya dari provider Hawk-Eye dan Goal Control 4D.

Terkait pengimplementasian penggunaan teknologi kamera di stadion, La Liga sebenarnya sudah lebih dulu menggandeng Mediacoach. Perusahaan asal Spanyol itu menyediakan sistem tracking yang membuat klub bisa menganalisa hampir setiap aksi pemain di atas lapangan dan diolah dalam bentuk statistik. Seperti jumlah operan, shot on goal, jarak tempuh pemain, top speed, dan data lainnya.

Namun Mediacoach tidak memiliki linsensi dari FIFA untuk menjadi salah satu provider teknologi garis gawang. Sebenarnya bisa saja La Liga mengusulkan ke FIFA untuk memakai Mediacoach sebagai provider teknologi garis gawang. Tapi untuk mendapatkan lisensi FIFA itu mereka harus membayar 4 juta euro.

Pada awal musim 2016/2017, presiden otoritas Liga Spanyol, Javier Tebas, mengaku kalau goal line technology terlalu mahal untuk mereka. Karenanya La Liga memilih untuk menggunakan teknologi video rekaman (yang dikenal sebagai VAR). Tapi itupun futuristik akan digunakan pada musim 2018/2019.

“Pengujian sudah dilakukan. Saya yakin itu akan mulai digunakan pada Juli 2018, jika FIFA menyetujuinya, kami akan mulai menggunakannya,” ungkap Tebas beberapa bulan lalu, dikutip dari ABC.

Liga Spanyol masih harus menunggu paling tidak hingga musim ini berakhir untuk punya teknologi yang akan membuat kontroversi gol tidak terulang lagi. Tapi sampai waktu itu tiba, mereka hanya berharap semoga gol-gol hantu tidak bergentayangan lagi di musim 2017/2018 ini.

(yna/din)


Iklan