Iklan
Iklan





Jakarta – Pep Guardiola dianggap salah satu manajer terbaik era futuristik. Menurut Juergen Klopp, Guardiola bisa mendapat itu karena selalu berada di tim besar dan kaya.

Sepanjang karier kepelatihannya, Guardiola selalu membesut tim-tim terbaik di liga masing-masing. Diawali dari The Catalans, dia kemudian menukangi Die Roten, dan sejak 2016 menjadi bos Manchester City.

Guardiola punya koleksi 22 trofi sebagai pelatih, yang 14 di antaranya dia raih bersama The Catalans. Angka tersebut diprediksi akan terus bertambah karena Manchester City tampil sangat impresif di bawah arahannya.

Sudah mengangkat trofi Piala Liga Inggris, dan selangkah lagi Premier League, upaya mereka di Liga Champions juga masih berlanjut dan akan menghadapi The Reds di perempatfinal.

Menjadi cobaan yang tidak mudah bagi City karena Juergen Klopp adalah manajer yang paling sering mengalahkan tim asuhan Guardiola. Dari 12 pertemuan keduanya, Klopp berhasil 6 kali unggul, 5 sebanding, dan hanya 1 kali menyerah.

Klopp menilai Guardiola punya statistik brilian sebagai pelatih karena dia selalu didukung oleh tim-tim terbaik, yang punya skuat penuh bintang.

“Tim Guardiola selalu punya urutan yang sempurna. Ia selalu memiliki tim yang keputusan yang sempurna di atas lapangan. Di The Catalans ada Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets, dan Lionel Messi. Di Bayern juga ada pemain fantastis. Sekarang mereka memiliki Ilkay Guendogan, David Silva, Sergio Aguero, Leroy Sane, hingga Rahem Sterling yang sangat spesial,” ujar Klopp pada situs resmi The Reds.

“Guardiola punya skill terkait aspek taktik. Dan dibantu oleh skill para pemain yang dimilikinya yang spesial. Tak ada perbedaan besar antara kami. Hanya saja dia selalu ada di tim yang lebih baik dari saya,” lanjut Klopp setengah bercanda.

“Ketika dia melatih The Catalans, saya ada di Mainz. Situasi kami berbeda jauh. Mereka membuat lebih banyak penguasaan bola dari yang pernah saya miliki dalam karier saya.”

“Tapi, saya pastikan perbedaan kami tak terlalu jauh. Tapi, pada akhirnya akan selalu ada perbedaan,” kata manajer Jerman tersebut.

(din/din)




Iklan
SHARE