Iklan
Iklan





Leicester – Leicester City mengaku memecat Claudio Ranieri adalah sebuah keputusan yang amat berat. Tapi kini tim dapat momentum bagus, keputusan itu terasa sepadan.

Ranieri dipecat menyusul serangkaian hasil negatif yang dipetik Leicester, khususnya di Premier League. ‘Si Rubah’ sempat cuma satu poin dari zona degradasi, sehingga mengambil keputusan memecat Ranieri pada 23 Februari lalu.

Sejak kejadian itu, kendali tim diambil alih asisten manajer tim, Craig Shakespeare, yang kini jadi manajer tetap. Menariknya, sejak pergantian manajer ini Leicester langsung bangkit.

Di bawah Shakespeare, mereka sudah memetik dua kemenangan. Leicester mengatasi The Reds dan Hull City masing-masing dengan skor 3-1, seluruhnya di Premier League.

Hasil itu pun untuk sementara menjauhkan mereka dari zona merah, dengan jarak tiga angka.

“Itu menyakitkan. Kami tidak menginginkannya, tapi kami melihat klub sebagai prioritas pertama. Ini sudah ada selama 133 tahun, jadi kami mencoba yang terbaik untuk terus melaju di level top. Saya tidak merasa ini akan membuat klub terpuruk,” kata Wakil Ketua Leicester Aiyawatt Srivaddhanaprabha.

“Claudio mengerti. Dia juga sedih, tapi dia berujar bahwa sepakbola akan selalu bergantung pada hasil-hasil. Kami memutuskan membuat klub lebih baik.”

“Kalau kami mempertahankannya dan terdegradasi, untuk berpikir kembali bahwa kami seharusnya melakukan sesuatu yang berbeda sebelumny, itu akan percuma. Kami memutuskan, dan mendapatkan enam poin, saya rasa itu sepadan,” imbuhnya dikutip Soccerway.

Leicester kini akan menghadapi Sevilla di partai leg kedua babak 16 besar Liga Champions, di King Power Stadium. Mereka dalam urutan tertinggal 1-2 dari leg pertama.

(raw/nds)


Iklan