Iklan
Iklan





Manchester – Manchester City mengakhiri musim lalu nirgelar. Bisa jadi hal itu karena para pemain City masih beradaptasi dengan gaya bermain yang diusung Josep Guardiola.

Manajer Catalan itu bergabung ke City pada 2016-17 setelah sebelumnya sukses membesut Barca dan Die Roten. Di dua klub, Guardiola selalu menerapkan tiki-tika dengan mengedepankan penguasaan bola yang tinggi.

Begitu pun dengan City. Namun, musim pertama Guardiola tidak mulus karena the Citizens hanya finis ketiga di Premier League, tersingkir di babak keempat Piala Liga dan semifinal Piala FA, dan terdepak di babak 16 besar Liga Champions.

Hasil mengecewakan tersebut tidak berbeda jauh dengan awal karier Ilkay Guendogan. Sejak direkrut dari Borussia Dortmund di musim panas 2016, pemain tengah internasional Jerman itu memang memperlihatkan start yang menjanjikan.

Sayangnya, musim Guendogan mesti berakhir lebih cepat karena cedera parah yang membekapknya di pertengahan musim.

“Terus terang, kami menderita di musim lalu — segalanya futuristik untuk Pep, untuk pemain-pemain futuristik sepertiku, mungkin untuk para pemain lainnya juga untuk memahami gaya bermain Pep,” ungkap Guendogan kepada ESPNFC.

“Adaptasi tidak datang dalam beberapa pekan atau hanya satu saat. Namun, kupikir dominasi sepakbola yang kami mainkan adalah jalan yang tepat.”

“Kami mengendalikan banyak matchday di musim lalu di Premier League. Mungkin 95 persen dari seluruh matchday yang kami mainkan,” sambung dia.

City akan menuntaskan pramusimnya dengan menghadapi Tottenham Hotspur, Minggu (30/7/2017) dinihari WIB dan West Ham, Jumat (4/8). Kemudian, Guendogan dkk. akan membuka Premier League dengan bertandang ke markas tim promosi, Brighton & Hove Albion pada 12 Agustus.

(rin/krs)


Iklan